Surat yang Tak Pernah Kukirim
Back
Personal

Surat yang Tak Pernah Kukirim

IRedDragonICYNovember 28, 20257 min read

Apakah Kamu Membacanya?

Mungkin tidak.

Kenapa?

Ya, karena aku tidak sebegitu menarik. Kamu juga tidak akan membuka halaman ini. Tidak ada alasan untukmu mengetikkan URL ini, menggulir layar, dan sampai di paragraf yang sedang kamu—atau bukan kamu—baca sekarang.

Tapi entah kenapa, aku tetap menulis.


Tentang Pikiran yang Tak Pernah Berhenti

Entah sudah berapa malam aku berbaring menatap langit-langit kamar, dan bayanganmu muncul begitu saja. Seperti pop-up notification yang tidak bisa kumatikan. Seperti lagu yang tersangkut di kepala dan terus berputar meski aku sudah menekan tombol skip.

Aku sudah mencoba move on.

Sungguh.

Aku sudah mencoba menyibukkan diri dengan kode-kode yang tak berujung, dengan proyek yang menumpuk, dengan segala hal yang seharusnya cukup untuk mengalihkan pikiran. Tapi ada celah kecil di antara semicolon dan kurung kurawal tempat bayanganmu selalu menemukan jalan masuk.

Wkwkwk, ini mungkin banyak yapping-nya, ya.

Maafkan.


Apakah Kamu Merasakannya?

Ada hal yang tidak pernah kutanyakan langsung.

Pertanyaan yang selalu kutelan sebelum sempat keluar dari bibirku. Pertanyaan yang kuketik lalu kuhapus. Berulang. Seperti infinite loop tanpa break statement.

Apakah kamu merasakannya?

Getaran aneh saat mata kita bertemu di antara keramaian? Gravitasi tak kasat mata yang entah bagaimana selalu menarikku untuk mencari sosokmu di setiap ruangan? Atau mungkin—mungkin saja—ada secuil kehangatan yang kamu rasakan saat aku mencoba membuat lelucon bodoh hanya untuk melihat senyummu?

Atau itu semua hanya bug dalam sistem persepsiku?

Mungkin.

Mungkin memang hanya aku yang merasakan.


Tentang Menunggu

Sebetulnya, aku menunggu.

Aku tidak ingin menulis semua ini. Jari-jariku menolak, otakku memberontak, tapi ada sesuatu di dalam dada ini—sesuatu yang lebih kuat dari logika—yang memaksa setiap kata ini keluar.

Aku ingin kamu tahu.

Tapi kamu pasti sudah tahu, kan?

Bahwa aku begitu menyukaimu. Terlalu jelas untuk disembunyikan. Terlalu transparan untuk diperdebatkan. Setiap tatapan, setiap kata yang kupilih dengan hati-hati, setiap kebetulan yang kurancang dengan cermat—semuanya adalah confession yang tidak pernah kuucapkan dengan kata-kata.

"Cinta yang tak terucap adalah cinta yang paling lantang berteriak dalam keheningan."

Tapi otakku selalu membantah.

Ada ribuan teori dalam kepalaku. Ribuan skenario terburuk. Ribuan alasan mengapa aku harus menjauhi dirimu sebelum gravitasi ini menarikku terlalu dalam dan aku tidak lagi bisa menemukan jalan keluar.


Tentang Ketidaksempurnaan

Aku tahu.

Aku tidak ada apa-apanya.

Aku masih banyak kekurangan—terlalu banyak untuk dihitung dengan jari. Aku bukan pria idaman. Bukan sosok yang muncul di mimpi-mimpi romantismu. Bukan karakter utama dalam novel-novel yang kamu baca.

Aku hanya... aku.

Seseorang yang masih belajar menjadi lebih baik. Seseorang yang masih tersandung di jalan yang sama. Seseorang yang terkadang tidak tahu cara mengekspresikan apa yang dirasakannya kecuali melalui baris-baris kode dan paragraf-paragraf seperti ini.


November

Ini bulan November.

Bulan yang selalu memiliki arti berbeda bagiku sejak setahun yang lalu.

Sudah satu tahun berlalu sejak kita student exchange di negara seberang. Satu tahun sejak aku pertama kali menyadari bahwa ada seseorang yang bisa membuat detak jantungku bermain di tempo yang berbeda. Satu tahun sejak duniaku berubah dan tidak pernah sama lagi.

365 hari.

8.760 jam.

525.600 menit.

Dan di setiap menitnya, ada secuil memori tentangmu yang tersimpan di memory yang tidak pernah bisa ku-delete.


Tentang Kenyataan yang Harus Kuterima

Tapi ada satu hal yang harus kuakui pada diriku sendiri.

Aku bukan pilihanmu.

Ada seseorang di sana. Seseorang yang kamu impikan. Seseorang yang menghuni sudut-sudut hatimu yang tidak akan pernah bisa kujamah.

Dan aku tahu—aku memperhatikan, ingat?—bahwa dia menolakmu. Dengan halus. Dengan cara yang mungkin tidak menyakitimu secara langsung, tapi cukup untuk membuatmu mendengarkan lagu-lagu sedih di playlist Spotify-mu.

Ya, aku memperhatikan playlist-mu.

Status-mu.

Apapun itu.

Aku mencoba memahami setiap detail kecil. Setiap caption yang kamu tulis. Setiap lagu yang kamu share. Setiap story yang kamu posting. Berharap—dengan harapan yang patut dikasihani—bahwa mungkin, mungkin saja, ada satu yang ditujukan untukku.

Tapi tidak.

Tidak pernah.

Dan aku hanya tersenyum. Seolah tidak tahu apa-apa. Seolah aku hanya teman biasa yang kebetulan lewat di timeline-mu. Seolah hatiku tidak retak sedikit demi sedikit setiap kali aku menyadari bahwa bukan aku yang ada di pikiranmu.


11 November

Maaf, ini sudah terlambat sekitar 17 hari.

11 November.

Aku masih mengingat ulang tahunmu. Tentu saja aku ingat. Bagaimana mungkin aku lupa? Tanggal itu sudah ter-hardcode dalam memoriku, tidak bisa dihapus meski aku sudah mencoba berkali-kali.

Dan coklat itu.

Hahahaha.

Kamu tahu tidak? Itu pertama kalinya aku memberikan coklat kepada seseorang. Pertama kali. Dan lucunya—atau mungkin ironinya—aku tidak sadar bahwa itu adalah hari ulang tahunmu.

Kebetulan, kataku pada diriku sendiri.

Tapi tidak ada yang namanya kebetulan, kan?

Mungkin alam bawah sadarku sudah menghitung mundur hari-hari, mengingat tanggal itu, dan memilih momen yang tepat tanpa sepengetahuan kesadaranku. Atau mungkin ini semua memang hanya kebetulan kosong yang kuberikan makna terlalu dalam.


Tentang Wisuda

Dan wisudamu.

Aku ingin minta maaf.

Sebenarnya, aku tidak ingin mengucapkan selamat lewat tulisan. Kata-kata di layar terasa kosong, hampa, tidak memiliki bobot yang sama dengan kata-kata yang diucapkan langsung. Aku ingin datang. Ingin melihat senyum bahagiamu saat melempar topi toga ke udara. Ingin menjadi bagian dari momen yang seharusnya dirayakan bersama orang-orang yang berarti.

Tapi aku tidak sanggup.

Dan aku tidak mengetahui detailnya.

Jadi yang bisa kulakukan hanya diam. Memperhatikan dari jauh. Melihat foto-foto yang mungkin kamu posting, dan ikut bahagia dalam keheningan.

Maafkan aku.


Penutup yang Tidak Benar-Benar Penutup

Ya, mungkin segini saja yapping hari ini.

Sudahlah.

Tidak ada gunanya aku menulis semua ini. Kamu tidak akan membacanya. Kamu tidak tahu halaman ini ada. Dan kalaupun kamu menemukannya secara tidak sengaja, kamu mungkin tidak akan sadar bahwa ini tentangmu.

Atau mungkin kamu sadar.

Dan kamu memilih untuk berpura-pura tidak tahu.

It's okay.

Aku sudah terbiasa.


Untukmu, yang mungkin tidak akan pernah membaca ini.

Untukmu, yang mengubah arti November bagiku.

Untukmu, yang tanpa sadar mengajariku arti dari menunggu tanpa kepastian.


~R



"Mungkin cinta memang tidak selalu tentang memiliki. Mungkin cinta adalah tentang belajar melepaskan, sambil tetap menyimpan kenangan di sudut hati yang paling dalam. Mungkin cinta adalah tentang menulis surat yang tidak akan pernah dikirim, berharap angin akan membisikkan isinya padamu."


November, 2025 Di suatu malam yang terlalu sunyi untuk tidak menulis.

personalletternovemberindonesiafeelings
Share this article
IRedDragonICY | Research Scientist Portfolio